The Kid from The Big Apple
Film
keluarga yang sangat bagus. Film ini mampu memainkan emosi penonton. Menyampaikan
pesan moral yang mendalam. Sarah nama gadis kecil itu.
Film itu juga menekankan
tentang proses belajar. Bagaimana belajar itu tidak mengenal usia? Bagaimana sebuah
kebudayaan tergerus zaman?
Belajar itu proses yang tidak
berhenti – seperti itu
kira-kira quote dari Kakek Sarah
sambil belajar gawai barunya.
Film
ini menggambarkan kondisi sosial budaya saat ini. Seorang anak bernama Sarah
dan kakeknya merupakan dua orang yang memiliki gap usia sangat jauh. Kakek yang
kental dengan budaya nenek moyangnya harus hidup bersama dengan cucunya yang
lahir dan besar di negara Amerika.
Sang
cucu yang sangat menguasai gadget, sementara kakeknya masih menggunakan telepon
genggam yang tidak bisa konek internet. Ternyata, si cucu pun diajari oleh
ibunya tentang budaya nenek moyangnya. Membuat sang kakek bangga melihatnya.
Sang kakek pun mulai menyesuaikan dengan budaya baru. Belajar menggunakan gawai
seperti yang dilakukan cucunya.
Bagaimana menaklukkan egoisme
untuk saling memaafkan?
Tidak
ada mantan anak. Hubungan antara bapak dan anak tergambar di sini. Kakek Sarah
memiliki anak perempuan, yaitu Ibu Sarah. Mereka dua orang yang keras kepala.
Zaman masih muda, Ibu Sarah melawan Kakek Sarah bahkan sampai pergi ke Amerika.
Seiring
dengan perjalanan waktu, Ibu Sarah melahirkan dan membesarkan Sarah di Amerika.
Sampai pada waktu Ibu Sarah menitipkan Sarah ke kakeknya. Berawal dari situ,
hubungan antara bapak dan anak ini mulai membaik. Dibantu oleh Sarah dan teman
Sarah, Ibu Sarah mulai menurunkan egoismenya.
Sang
Kakek yang terlihat keraspun ternyata memiliki hati yang lebut dan sayang ke
putrinya itu. Terlihat dari cerita masa lalu ketika Ibu Sarah pergi ke Amerika,
Kakek sarah berusaha mengunjunginya. Namun, karena tidak bisa masuk ke bandara
dengan membawa obat-obatan tradisional cait, sang kakek gagal melanjutkan perjalanan.
Cerita tersebut dibagikan ke sang cucu.
Kemudian
teman Sarah membantu merekam video pamitan Sang Kakek. Video tersebut dikirim
ke gawai Ibu Sarah. Dari situlah, egoism-egoisme itu mulai luntur. Butuh
kejujuran mengungkapkan kasih sayang sehingga hati sekeras apapun bisa lembut.
Bagaimana memperlakukan orang
tua?
Jangan
membantah. Sekeras apapun orang tua kita, mereka itu sayang anak. Dan ucapan
orang tua terkadang banyak benarnya. Mungkin karena pengalaman mereka. Ibu
Sarah dulu membantah perintah Kakek Sarah. Memilih pergi dari rumah bersama
dengan lelaki pilihannya. Namun, kehidupan asamara Ibu Sarah tidak semulus
bayangannya. Kakek Sarah sudah mewanti-wanti hal itu.
Keluarga
teman Sarah juga memberikan pelajaran yang sangat berharga. Teman-teman Sarah
terlahir dari keluarga yang berbeda-beda. Teman Sarah anaknya penurut. Bahkan
dia dipukul orang tuanya tidak menangis. Anak yang cenderung penurut.
Lain
halnya dengan Sarah. Sarah anak yang pemberani. Dia sayang sama kakek dan
ibunya. Dia selalu menunjukkan kasih sayang melalui gawai miliknya. Menjaga
hubungan dengan sang ibu melalui chat-chat. Sarah memperlakukan kakeknya tegas,
tetapi dia sangat penyayang. Dia mau membantu kakek untuk mencuci piring.
Bahkan menyiapkan makanan yang sehat.
Bagaimana memperlakukan
anak-anak?
Nah,
ini banyak sekali nih. Keras itu tidak menyelesaikan masalah. Terbukti dari
larangan Kakek Sarah yang dengan keras bahkan sampai menggunakan fisik melarang
Ibu Sarah untuk tidak pergi dari kehidupan Ibu Sarah.
Kemudian
perlakuan orang tua teman Sarah. Kasar. Sibu bekerja. Padahal, teman Sarah
rindu kebersamaan, rindu kasih sayang. Meski semua keinginan dalm bentuk harta
dituruti orang tuanya, dia merasa tidak mendapatkan kasih sayang utuh dari
ortunya. Bahkan hanya untuk piknik bersama saja tidak pernah.
Saya
suka film ini. 😍
Komentar
Posting Komentar